Berawal Di Kota Malang dan Berakhir Di Ibukota.

Stasiun Kota Malang
Stasiun Kota Malang

Sore itu, di Kota Malang yang dingin dan selalu dingin, rintik hujan masih membasahi bumi. Mendung pun membalut awan. Masih terlihat awan hitam kelam di ujung langit sana.

Resah dan gelisah mulai terasa. Mondar-mandir kesana kemari, berfikir keras bagaimana caranya menerjang hujan tanpa terguyur basah. Ahbenar-benar berfikir keras. Kendaraan yang ada hanyalah sepeda motor dan jas hujanpun yang ada hanya satu biji.

Merasa diri sudah rapi dan cantik dengan senyuman yang masih kukembangkan pada hujan yang menyapa. Aku dan kedua adikku akhirnya nekad untuk menerjang hujan yang mulai tak bersahabat. Dengan satu tas ransel dan tas tangan, kudekap erat dalam pelukanku, berbonceng pada adikku yang cewek. Sambil berbalutkan jas hujan hitam yang sedikit menghangatkan dan melindungi tubuhku dari guyuran hujan yang mendera. Dan salah satu kesalahan, celana hujannya tidak kupakai, sehingga sebagian celanaku basah terguyur hujan. Adikku sendiri, rela memakaikan jas hujannya untukku. Dia rela berhujan-hujan dan hanya memakai jaket merah yang tembus air. Itu semua, agar aku tidak didera sakit. Sebab aku akan menempuh perjalanan panjang dengan kereta menuju ibukota, ya itulah kota Jakarta, kota yang selama ini aku rantaui selama setahun belakangan. Sedangkan adikku yang cowok berangkat belakangan menyusulku menuju stasiun. Dia pun ikutan menerjang hujan dan hanya memakai jaket kulit hitam. Yah..demi kepergian diriku, mereka mengantarkanku sampai ke stasiun. Ada rasa kasihan dan sayang pada mereka berdua.

Di setengah perjalanan, Tiba di pom bensin.

Adikku minta berhenti, karena ingin menyelamatkan kertas-kertas yang ada di tasnya supaya tidak basah. Dia menaruhnya di dalam jok sepeda motor. Hujan terus saja mendera dan di pom bensin ini pula masih banyak orang berteduh menunggu hujan reda. Tapi aku dan adikku tetap saja bertekad menerjang hujan, karena kita mengejar jadwal keberangkatan kereta. Kalau aku terlambat, urusan menjadi lain lagi. Hehehe (seperti di film saja, Mengejar Kereta). Sepeda motor terus meluncur, menantang setiap semburan hujan yang menimpa kami. Akhirnya tidak berapa lama lagi kita sampai di Stasiun Malang. Adikku yang cowok sudah datang terlebih dahulu. Jadi aku diantar kedua adikku yang cantik dan gantenghahahaha(memuji saudara kan berkah).xixixixixi

Disitulah akhir pertemuan kami dan disitulah kita berpisah.

Masih belum akhir sih, karena nantinya masih ada pertemuan berikutnya, Insyaallah. Aku masih berharap bisa bertemu lagi dengan mereka, besok dan seterusnya. Amin. Jabatan tangan dan ciuman pun mewarnai kepergianku. Selangkah demi selangkah aku menuju peron. Dan lambaian tangan serta ucapan Hati-hati pun keluar dari bibir kita masing-masing. Walau terasa berat, tapi ini yang harus terjadi. Dan insyaallah aku pasti akan kembali ke kota Malang ini.

Kumasuki gerbong kereta. Kududuk sendiri, karena tidak ada teman di sebelahku. Kursi kereta hanya terisi sebagian dan banyak yang masih kosong. Ah.kalau begini enak nih.aku bisa santai-santai duduknya. Nyamannnn 😀

Beberapa menit kemudian, kereta mulai beranjak dari tempatnya. Suara lengkingannya pun menderu, sebagai pertanda keberangkatannya. Samar-samar terlihat pemandangan indah di luar sana. Di balik jendela yang berada di sebelahku. Hamparan sawah hijau dan beberapa bangunan rumah pun kulintasi sekuen demi sekuen dan tampak seperti sebuah cerita gambar yang sedang berjalan. Patut diabadikan.

—————————-

Senja pun mulai menampakkan dirinya. Awan berwarna jingga melapisi setiap lapisan langit. Terkandung makna keindahan dari ciptaan Tuhan yang tak dapat kuungkapkan. Sinar matahari pun mulai bersembunyi di balik awan jingga, sedikit-demi sedikit mulai menghilang hingga malam pun menyapaku saat ini. Aku hanya bisa terkagum-kagum atas semua ini. Dan tak lupa kuucapkan kebesaran-Mu Tuhan.

senja dibalik jendela kereta
senja dibalik jendela kereta

Malam mulai menyeruak dan rasa kantuk pun mulai menghinggapiku.

Tak dapat kutahan dan akhirnya kutertidur. Hampir sepertiga perjalanan telah kutempuh dengan kereta ini dan tibalah di Stasiun Solo Balapan. Akupun masih terlelap tidur. Dalam ingatan antara sadar dan tidak sadar, ada seorang penumpang gadis duduk di sebelahku. Dengan rasa mengantuk yang amat sangat kuhiraukan dirinya. Kuteruskan saja kenikmatan tidurku, tanpa mempedulikan siapaun yang berada di sebelahku.

Menjelang tengah malam sekitar jam 00.30 WIB, akupun terbangun.

Dan aku baru sadar, sesadar-sadarnya bahwa ada seseorang yang duduk di sebelahku. Ternyata dia adalah seorang gadis bule, cantik lagi. Dengan rambut blonde dikuncir erat ke belakang. Dandanan yang menor dan bulu mata yang tebal dengan maskara. Gadis ini sebenarnya sudah cantik dan berkulit putih, tapi sayang kenapa harus berdandan setebal ini ya? Aku pun terheran-heran melihatnya. Kecantikan alamiahnya jadi tersembunyi dan tak terlihat lagi. Dibandingkan diriku yang tak secantik dirinya, apalah arti diriku. (Hahahaha, merendah euy). Dia membawa tas kresek garis-garis hitam dan putih, entahlah apa isinya serta tas ransel yang padat berisi, aku juga tak tahu apa isinya. Kalau ingin tahu, perlu kubongkar saja kedua tasnya. Hahaha.. Kedua tas itu berada di pangkuannya. Dia memakai kaos oblong, dan celana ketat yang ternyata baru kusadari bahwa celananya robek-robek di bagian lututnya. Dalan hatiku hanya berkata, Astaghfirullahaladzim. Dan dia pun hanya memakai sepasang sandal jepit kuning. Ya..hanya sandal jepit, yang kukira awalnya dia memakai sepatu/ sandal berhak yang mewah, karena dandanannya yang menor. Upppssaku terlalu banyak mengkritik yahahahaha. (Maap..maap ya gadis bule, bukan maksud kok. Hehehe).

Di tengah keterbangunanku di tengah malam ini, kuambil wudhu dengan tayamum, lalu kusegerakan saja shalat malam. Walaupun di dalan kereta, kuusahakan untuk melakukan shalat sunnah.. (Hahaha itu pun kalo sempat. Kalo gak sempat, yah bablas saja deh.**glodak. 😀 )

————————-

menatap alam di balik jendela kesendirian
menatap alam di balik jendela kesendirian

Pagi menjelang, suara-suara kokok ayam terdengar di kejauhan dan suara senandung adzan subuh pun terdengar samar-samar.

Kusegerakan saja melaksanakan shalat subuh. Dan kuusahakan untuk tidak tidur lagi. Ku mencoba melihat keadaan di luar sana melalui jendela. Masih gelap dan suasananya pun masih terlihat indah. Kemudian sedikit-demi sedikit sinar matahari mulai meyembul di balik awan. Menandakan pagi mulai menyapaku. Hati riang dan berujar pada pagi, Selamat pagi, matahariku. Ah.mataharipun hanya tersenyum dan aku pun ikut tersenyum.

Kuberanikan diri menyapa gadis bule itu. Awalnya kutanyakan apakah dia bisa berbahasa Indonesia dan ternyata dia tidak bisa. Lalu kumulai bercakap-cakap sekedarnya dengan menggunakan bahasa Inggris. Kita saling memperkenalkan diri. Namanya Kezia. Dia berasal dari Brazil, sebuah kota di Amerika, sebuah benua yang jauh disana dari Indonesia. Akupun belum pernah kesana dan belum pernah tahu seperti apakah kota Brazil itu. Yang kutahu hanya dari buku dan televisi. Kesana hanyalah sebuah mimpi yang belum pasti (mulai mimpi dehzzzzzzzz). Ternyata dia datang ke Indonesia untuk travelling dan mau ke Jakarta untuk bertemu dengan temannya.

Sepanjang perjalanan, ada satu hal yang aku simpulkan dari seorang bule Amerika.

Kesimpulan sementara dari yang aku lihat dengan mata kepala sendiri, walaupun sampelnya hanya satu orang. Bukan bermaksud men-justice, tapi hanya sebuah anggapan yang tidak mutlak. (hahahabahasaku mulai aneh deh. Xixixi). Berawal ketika dia makan sesuatu (makanan, minuman apa saja deh), tidak ada sedikit ucapan untuk menawarkannya pada orang yang ada di sebelahnya (bukan bermaksud mengharapkan makanan yang dimakannya lo. Ya) Hanya saja pada umumnya orang-orang di Indonesia yang aku temui selama ini dalam suatu tempat yang didalamnya ada diriku walaupun kita tak pernah mengenal, setidaknya ada sikap ramah tamah terhadap orang yang ditemuinya. Misalnya menawarkan apa yang ia makan baik makanan atau minuman, pada orang yang ada di sebelahnya atau didekatnya, sekalipun tak dikenalnya. Tidak masalah, walaupun akhirnya orang yang ditawarkannya itu tidak mau. Hahahahabukan maksud memuji diri sendiri atau orang Indonesia, hanya saja ingin menyimpulkan sebuah perbedaan dari kedua negara dalam hal ramah-tamah di dalam kendaraan sebagai sebuah fakta yang terjadi. (Alah.mulai lagi deh). Bukan berarti setiap manusia Indonesia itu slalu bersikap sempurna ya. Tapi yang aku banggakan adalah bahwa Orang Indonesia itu benar-benar memiliki sikap ramah tamah yang patut dicontoh. (bangga nih ye ceritanya).

Disisa-sisa detik perjalanan menuju tempat tujuan, aku mempersiapkan diri. Memacu diri menuju langkah berikutnya di kota tujuan.

Yaa..itulah kota Jakarta. Di Stasiun Jatinegaralah aku turun. Disini pulalah aku berpisah dengan gadis bule yang bernama Kezia itu. Kuucapkan Good Bye padanya dan sedikit perhatian dengan berucap Take Care. Dia pun hanya tersenyum padaku.


Stasiun Jatinegara
Stasiun Jatinegara

Ok lah., Dengan langkah mantap dan pasti kusegerakan langkahku dan akan kusambut pagi yang cerah ini dengan berjuta harapan.

Welcome Jakarta, I am Cominggg again.. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s