Model Bangunan Kolonial

Model bangunan kolonial banyak dijumpai di berbagai kota di Indonesia khususnya di kota-kota yang pernah dijajah oleh Belanda seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Semarang , Malang dan lainnya. Model bangunan berarsitektur kolonial ini disebut juga dengan The Empire Style/The Dutch Colonial. Model bangunan tersebut tidak hanya dijumpai pada bangunan hunian saja tetapi juga pada model bangunan pemerintahan seperti kantor, stasiun, rumah peribadatan, contohnya yaitu Museum Fatahillah Jakarta, Stasiun Kota Jakarta, Museum bank Mandiri Jakarta, dan Gedung Sate Bandung.

Museum Bank Mandiri
Museum Bank Mandiri
dscf7475
museum fatahillah

dscf7420
Stasiun Kota

Keberadaan bangunan berarsitektur kolonial ini merupakan salah satu konsep perencanaan kota kolonial yang dibangun oleh Hindia Belanda yaitu perpaduan model bangunan Belanda dengan teknologi bangunan daerah tropis.

Model bangunan berarsitektur Kolonial ini memiliki kekhasan bentuk bangunan terutama pada fasade bangunannya. Diantara ciri-ciri bangunan Kolonial yaitu:

1. Penggunaan gewel (gable) pada fasade bangunan yang biasanya berbentuk segitiga.

Gevel
Gevel sumber google

2. Penggunaan tower pada bangunan.

3. Penggunaan dormer pada atap bangunan yaitu model jendela atau bukaan lain yang letaknya di atap dan mempunyai atap tersendiri.

dormer, sumber google
dormer, sumber google

4. Model denah yang simetris dengan satu lantai atas.

5. Model atap yang terbuka dan kemiringan tajam.

6. Mempunyai pilar di serambi depan dan belakang yang menjulang ke atas bergaya Yunani.

7. Penggunaan skala bangunan yang tinggi sehingga berkesan megah.

8. Model jendela yang lebar dan berbentuk kupu tarung (dengan dua daun jendela), dan tanpa overstek (sosoran).

Model bangunan kolonial tersebut banyak dijumpai sampai saat ini, tetapi yang terawat hanya sebagian dan sebagian yang lain hampir musnah dimakan jaman, bahkan terlantar karena ditinggalkan pemiliknya. Diantara model bangunan-bangunan kolonial tersebut banyak bangunan colonial yang memiliki nilai sejarah/historis tinggi. Maka dari itu, bangunan tersebut harus dipertahankan dan dipelihara keberadaannya karena merupakan salah satu asset peninggalan yang bisa menjadi bukti sejarah bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu dengan dikeluarkannya peraturan tentang konservasi terhadap bangunan yang bersejarah, diharapkan bangunan tersebut tidak tergusur oleh jaman.

Artikel ini diikutkan dalam ASKAT-nya Pakdhe, tanggal 15 Juni 2011.

Advertisements

Pelabuhan dalam Jiwa

Terik pagi menggodaku,

Beranjak menuju pelabuhan jiwamu yang kosong,

Kududuk terdiam menatap biru langit,

Ditemani kicauan burung di langit peraduannya,

Seuntai senyum yang kau berikan pagi ini,

Meleburkan resahku yang sedang menggelisah,



Semilir angin pun berhembus mengaliri jiwaku,

Menepiskan setiap keresahan yang teruntai membeku,

Meskipun keramaian sedikit mengusik kebisuanku,

Tetapi lantunan suaramu yang merdu,

Mampu memberikan keteduhan hingga menetesi hatiku,

Meskipun kebisuanku kian terpatri,

Kubiarkan kau tahu bahwa asaku untukmu,

Mengharapkan pelabuhan jiwamu terhampar luas di depanku,

Angka Ganjil Lebih Disukai Allah

angka, sumber gambar dari google
angka, sumber gambar dari google

Mengapa Allah SWT menyukai angka ganjil? Mengapa bukan angka genap? Apakah angka genap dibenci oleh Allah SWT? Allah SWT tidak membenci angka genap, tetapi Allah SWT lebih menyukai angka ganjil daripada angka genap. Beberapa hal yang menunjukkan bahwa Allah SWT menyukai angka ganjil, diantaranya yaitu:

  1. Nama-nama agung untuk Allah SWT yang disebut juga Asmaul Husna terdiri dari 99 nama, Karena Allah SWT menyukai angka ganjil. Hal ini tercantum dalam hadist HR . Buchary-Muslim, yaitu Dan Allah memiliki Sembilan puluh sembilan nama seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal dan mentafakurinya) akan masuk surga. Dia itu Witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil .
  2. Shalat witir selalu mempunyai angka ganjil yaitu 1 atau 3 rakaat. Shalat witir adalah shalat sunnat penutup shalat yang lain. Seperti dalam hadist Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi bahwa Sesungguhnya Allah itu witir (esa/ganjil) dan suka pada yang ganjil.
  3. Langit dan bumi terdiri dari 7 lapis. Angka 7 adalah angka ganjil. Seperti dalam Alquran:Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi (QS. 65:12), dan Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (QS.71:15)
  4. Nabi Yusuf bermimpi bahwa ia melihat sebelas bintang, matahari dan bulan sedang bersujud kepadanya. Dalam hal ini disebutkan angka 11 yang merupakan angka ganjil dan tercantum dalam surat Al-quran (QS.12:4).
  5. Kita tahu bahwa dalam sepekan ada tujuh hari, begitu juga dengan neraka jahanam yang mempunyai tujuh pintu dan tujuh puluh ribu tali kendali. (HR. Muslim). Disini disebutkan kembali angka ganjil yaitu 7.

Hal-hal diatas hanya sebagian bukti bahwa Allah SWT menyukai angka ganjil. Masih banyak bukti-bukti yang lain yang belum disebutkan disini. Semua bukti-bukti itu sudah tercantum dalam kitab suci Al-quran. Dari itulah mengapa Allah SWT sangat menyukai angka ganjil. Jadi kita tidak perlu ragu lagi akan kebesaran Allah SWT.

askat-reboan1-150x1501

Artikel ini diikutkan dalam ASKAT. Semoga bermanfaat.