Biarkan Kumenyuapimu Pagi Ini

Kutatap mata sendu nan lentik yang ada dihadapanku ini. Seorang wanita yang berhati lembut dan keibuan. Wanita yang sabar dan perhatian. Aku bersyukur telah memperistrinya. Karena dialah malaikatku yang sangat aku cintai.

Sambil mengunyah sarapan pagi yang disajikannya dengan penuh kesabaran, dia begitu telaten dan sabar di setiap hari menyajikan makanan kesukaanku. Meskipun kini kanker jahat sedang menggerogoti tubuhnya. Meskipun wajah cantik dan sendunya masih terlihat jelas dibalik senyumannya.
“Papa.. Mengapa menatapku seperti itu daritadi? Ayo cepat makannya, nanti papa terlambat ke kantor lo..” Ucapnya penuh senyuman.

“Papa…kok diam aja nih. Sarapannya tidak enak ya?” Tanyanya padaku.
Kemudian aku tersenyum.” Duduklah di didekatku. Aku ingin menyuapimu pagi ini. Bolehkan sayang?” Rayuku padanya.
“Ih…papa. Seperti anak kecil saja, pake suap-suapan. Kan mama bisa makan sendiri.” Balasnya.

“Ayolah…”Rayuku sambil menarik tangannya dan menyuruhnya duduk di sampingku.

“Duduk saja yang manis ya sayang. Aku ingin memanjakanmu. ” Ucapku.

“Baiklah kalo itu mau papa. Jangan salahkan mama kalau terlambat ya…”Jawabnya.

Kemudian aku menyuapi istriku yang lemah dan sakit-sakitan ini. Betapa aku sangat mencintainya sampai detik ini dan detik berikutnya. Aku tak ingin dia pergi meninggalkan aku untuk selamanya.

Tiba-tiba istriku menatapku, dia memegang dan menyentuh wajahku dengan lembut. Kemudian dia berkata padaku, “Papa..mama terharu atas semua ini. Mama senang. Mama hanya ingin bilang terima kasih Papa. Mama sangat mencintai Papa.” Ucapnya lirih sambil meneteskan air mata.
Segera kupeluk istriku dalam-dalam. ” Tuhan, jangan pisahkan kami.” Ucapku dalam hati.

Riak Rindu

Pagi yang membahana jiwa. Menelusuri celah-celah nadi yang bergerak lembut. Menikmati senyuman mentari yang tak pernah redam. Kulihat terangnya yang menyejukkan dan menentramkan.

Kulebur satu-satu setiap riak rindu yang terpendam. Sambil kutatap wajahmu di sana. Walaupun terhalang tabir yang gelap. Walaupun terpisah jarak yang berliku. Aku tahu kau juga sedang menatapku disana. Aku tahu hati kita terbelah. Hanya saja masih ada ruang-ruang kosong tak berisi.

Pagi ini mentari masih tersenyum padaku. Apakah ia juga tersenyum padamu. Pastikan senyumnya menyatukan riak-riak rindu kita…