Surat Cinta Untuk Kota, ‘Kamu adalah Ruang Rinduku’

ba59d0d06a6f0aff59243c35899c77c4_surat

Sudah sekian tahun aku meninggalkanmu. Lebih tepatnya 10 tahun yang lalu. Kau masih terlihat biasa saja kala ku belum meninggalkanmu. Kau dengan ruang kota yang kecil, begitu melekat di hatiku. Kau tak pernah tergantikan dengan yang lain. Karena kau lah kampung halamanku. Tempat dimana aku dilahirkan oleh seorang bidadari tercantik dan terbaik di kota ini. Seorang bidadari mulia yang pertama kali ada dalam hidupku. Dialah ibuku. Tempat dimana pula, pertama kali aku bertemu seorang bidadara yang begitu tampan dan bijaksana di kota ini. Bidadara pertama dalam hidupku yang kini telah pergi ke surga meninggalkanku sendiri disini. Bidadara itu adalah ayahku. Mereka berdua adalah sepasang bidadari yang kau ciptakan untukku.

Masih teringat olehku, pertama kali aku beranjak pergi meninggalkanmu kala itu. Demi cita-cita untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus SMA. Aku berpaling darimu, ke tempat yang jauh lebih baik. Bukan aku bermaksud meremehkanmu. Bukan aku bermaksud menduakanmu. Bukan pula aku bermaksud menyepelekanmu. Aku tahu kau memiliki universitas yang cukup bagus untuk menampung generasi-generasi muda sepertiku untuk meraih pendidikan yang tinggi. Kau memiliki pendidik dan pengajar yang genius untuk mendidik generasi muda sepertiku menjadi manusia terpelajar dan sukses. Aku tahu banyak anak didikmu sukses dan berhasil dalam hidupnya setelah lulus dari salah satu universitas di tempatmu. Aku tahu bahwa kau juga memiliki generasi-generasi muda jenius yang nantinya mampu membangunmu menjadi kota yang lebih baik, maju dan tak kalah dengan kota-kota yang lain. Mungkin salah satu generasi jenius itu adalah aku. Ya….tak usah kau ragu. Aku yakin kau pasti tak kan rela melepas kepergianku kan? Jujurlah saja padaku. Jangan kau simpan sedihmu karenaku. Ah…mungkin aku terlalu sombong, tapi aku tak bermaksud begitu. Toh…tetap saja kau slalu ada di hatiku. Tak kan tergantikan.

Kala perpisahan itu aku tak pergi begitu jauh darimu. Tapi masih dalam satu propinsi kan. Aku pun masih sering mengunjungimu. Masih sering bertandang kerumahmu. Meskipun itu hanya seminggu sekali, dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Aku masih mengingatmu dikala waktu senggangku ada. Bukannya aku sudah katakan, kau masih slalu ada di hatiku. Tak hanya kamu, satu- satunya yang masih membuatku merindukanmu yaitu dua bidadari cantik dan tampan yang masih betah menetap di tempatmu. Keduanya adalah manusia mulia yang sampai detik ini telah membuatku menjadi manusia yang terdidik. Merekalah ayah dan ibuku. Ya… Kau pasti tahu, kalau aku tak berkunjung ke tempatmu, mereka pasti akan merindukanku. Pastinya kamu juga kan? Mengakulah… Tak usah kau malu.

Tapi sekarang sudah setahun aku benar- benar jauh darimu. Perjalananku menempuh pendidikan sudah berakhir. Dan aku sekarang sudah bergelar sarjana. Seorang sarjana yang mungkin satu-satunya yang kau rindukan saat ini. Ah..aku terlalu lebay ya… Hihihi… Mungkin kau tersenyum mendengar ucapanku. Karena aku tahu, senyummu tak pernah lepas dari ingatanku.

Kini aku benar-benar pergi jauh. Aku merantau sendiri demi mencari nafkah untuk diriku sendiri. Aku bertekad dan aku berjuang tak hanya demi kamu tapi demi kedua bidadariku di kotamu. Kau tahu, awalnya berat untuk benar-benar lepas darimu. Kita tak lagi satu propinsi. Kita tak lagi berjarak kurang dari 100 km. Tapi kita sudah benar-benar jauh dan beda propinsi. Bahkan jarak kita bila memakai kendaraan darat bisa memakan waktu selama 2 hari 2 malam. Jauh sekali kan? Jarak tempuh yang cukup lama dan pastinya menjenuhkan. Tapi bila memakai kendaraan udara, mungkin waktunya yang cepat hanya 1 jam saja, aku dan kamu sudah bisa cepat bertemu dan melepas kerinduan. Mungkin kita tak lagi sering bertemu seminggu atau dua minggu sekali. Tapi kita nantinya akan jarang bertemu. Hanya satu kali setahun saja, kita bisa bertemu. Lama sekali kan? Ah…. Betapa penuh perjuangan untuk bertemu denganmu. Betapa aku harus berkorban waktu, tenaga dan harta untuk berjumpa denganmu. Tapi, semua aku ikhlaskan, aku rela karena aku mencintaimu.

Kau masih disana, tak beranjak kemana-mana. Bahkan kau sudah mulai banyak perkembangan. Ruang kotamu mulai padat penduduk. Wajah-wajahmu mulai penuh dengan bangunan-bangunan baru dan mulai beranjak modern. Dan yang lebih pesat lagi, mulai banyak bermunculan perumahan-perumahan yang memakai lahan dan sawah-sawah yang dulunya masih terhampar padi menghijau. Tak hanya pesat di bidang pembangunan. Kau pun berkembang di bidang teknologi. Mulai banyak bermunculan warnet-warnet dan tempat rental PS yang ramai oleh para pemuda pemudi dan mahasiswa bahkan tak hanya mereka, para orang tua pun ikut meramaikannya. Ah…baru beberapa tahun kita berpisah, ternyata kau benar-benar tumbuh pesat. Aku kagum padamu. Nah…apa kataku kan… Manusia-manusia di kotamu itu adalah para jenius. Buktinya kau kini sudah berubah, semua karena mereka. Tak lagi jadul seperti dulu. Tak lagi kuno seperti dulu. Kau kini terlihat modern.

Aku masih kagum padamu. Dan akan selalu kagum padamu. Kau punya prinsip dengan sebuah slogan yang selalu kau camkan di setiap gerbang kehidupan termasuk manusia-manusia yang menghuni ruang-ruangmu. Slogan itu adalah ” Gerbang Salam” yang artinya gerakan pembangunan masyarakat islami, tidak hanya dari segi pembangunan saja yang islami, tetapi juga termasuk, manusianya. Kau terapkan slogan itu disetiap sudut ruangmu. Semua manusia yang menghunimu, khususnya yang beragama Islam, diwajibkan memakai busana muslimah dengan jilbabnya. Bahkan hal tersebut kau terapkan di setiap tempat baik pemerintahan maupun sekolah. Namun apa yang kau terapkan tetap memperhatikan toleransi dengan agama lain. Kau tahu, aku benar-benar salut padamu. Aku bangga padamu.

Ah…..sebenarnya, dari lubuk hatiku yang terdalam hingga saat ini, aku ingin sekali kembali padamu. Kembali kedalam pelukanmu. Memandangmu dari segala arah. Mengecupmu dengan lembut di setiap pagiku, sambil kuhembuskan nafas baru di hamparan sawah. Namun, saat ini Tuhan masih belum mengizinkan doaku. Tuhan masih belum memberikan restu untukku, meskipun aku sudah berkali- kali berusaha dan mencari jalan, agar aku bisa kembali ke pelukanmu yang hangat. Mungkin bukan saat ini. Tapi mungkin suatu hari, akan ada jalan itu. Tuhan pasti tahu apa yang terbaik bagi kita. Dan pastinya semuanya akan berakhir dengan indah.

Aku pernah bermimpi dan membuai, jika aku bisa dipertemukan dengan sepasang belahan jiwaku di dirimu. Dengannya aku bisa hidup damai diantaramu. Aku bisa kembali memelukmu dan mengecupmu dengan hangat bersama dengan belahan jiwaku. Dan kita akan selalu setia menemanimu sampai ajal menjemput kita. Itulah mimpiku. Aku harap kau bisa mendukung impianku itu. Tapi, jika ternyata, jalan cerita yang terjadi diantara kita adalah sebaliknya, dimana aku tak bisa kembali padamu seutuhnya, karena di tempat yang jauhnya bermil-mil ini ternyata aku telah menemukan belahan jiwaku di tempat yang lain, janganlah kamu bersedih. Janganlah kamu cemburu. Janganlah kamu melupakan aku. Aku pun begitu padamu. Pastinya kau tak akan tergantikan di mataku. Kau adalah belahan jiwaku yang terangkai bersama belahan jiwaku yang sebenarnya. Karena kau adalah hati yang tak akan pernah terlepas sekalipun.

Kumohon, doakan aku selalu, agar aku bisa menjalani hidup di tempat yang jauh darimu ini dengan lancar, mudah dan selalu diridhoi Allah. Aku hanya bisa mengucapkan sepatah kata untukmu, ” Aku Mencintaimu dan Aku sangat merindukanmu. Tunggulah aku disana, hingga kubisa memelukmu dengan hangat bersama dengan belahan jiwaku yang sebenarnya”. Kuharap kau pun juga begitu ya.

Satu pesan lagi untukmu, “Janganlah nakal dan tetaplah menjadi tempat yang terbaik untukku dan untuk manusia-manusia yang ada di sekitarmu. Damailah selalu dan kecup keningku untukmu.

Dari
Sang pemuja ruangmu

NB: kupersembahkan dan kukirimkan surat cinta ini untuk kotaku tercinta, Pamekasan, Madura.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s